Beranda blog

Diduga Pengedar Sabu, Warga Pancoran Dicokok Polisi

1784696982808

BONDOWOSO, Lagi-lagi Jajaran satuan reserse narkoba (Sat Reskoba) Polres Bondowoso mencokok Zainullah Bin Senol (30). Pasalnya ia diduga sebagai pengedar serbuk kristal atau sabu.

Zainullah warga dusun Widoro, Desa Pancoran, Bondowoso, Jawa Timur ini bertekuk lutut saat dicokok petugas, betapa tidak ia ketahuan menyembunyikan sabu didalam saku depan celananya.

Iptu Hadi Sukisman,Kasat Resnarkoba Polres Bondowoso mengatakan, Senol diamankan di jalan dusun Widoro, Desa Pancoran, Kecamatan kota Bondowoso,Rabu (3/7/2019) sekira pukul 23.00 WIB.

Penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang menyampaikann adanya pelaku peredaran narkoba jenis sabu. Dengan ciri-ciri sesuai dengan tampilan fisik pelaku.

1791899701721

Setelah dilakukan penyelidikan dan dilakukan penggeledahan,ditemukan pada saku celana depan bungkusan plastik kecil yang berisi sabu.

“Dari Zainullah berhasil diamankan beberapa barang bukti, yaitu satu paket sabu yang dibungkus klip plastik disolasi. Serta uang tunai Rp 350 ribu dan satu HP,” kata Iptu Hadi, Kamis (4/7/2019).

Diterangkan bahwa berdasarkan barang bukti yang bersangkutan diduga melanggar Pasal 114 ayat (1) Subs Pasal 112 ayat (1) UU.RI No. 35 Tahun 2009, Tentang Narkotika.

“Ancaman hukuman minimal 6 tahun, maksimal 20 tahun,” katanya.

Sementara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, serta penyidikan Zainullah diamankan di Mako Polres Bondowoso, setelah nanti berkas lengkap atau P21 akan segera diserahkan ke Kejaksaan.

ilustrasi-stop-pungli

Diterjang Hujan Lebat, Dapur Rumah Warga Besuki Situbondo Ambruk

1784696982808

Situbondo – Hujan lebat yang disertai hembusan angin kencang di Kecamatan Besuki telah memporak porandakan dapur rumah warga yang bernama Samawi (55). Rumah Sanawi yang berlokasi di Rt 03, Rw 01, Dusun Mandar, Desa Belimbing, Besuki, Situbondo, Jawa Timur tepat pukul 03.00 dini hari, Jumat, (8/3).


Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media online ini di lapangan menyebutkan bahwa, panjang rumah 5 meter dan lebar 6 meter yang berpenghuni 5 jiwa tersebut hancur pada bagian dapurnya.
“Untung saja kelima penghuni rumah itu selamat meski dalam keadaan tertidur lelap,” ujar Sonata, anggota tim Paskalis BPBD Situbondo, Jumat, (8/3).

1791899701721


Sonata menambahkan bahwa kerugian yang dialami korban yakni diperkirakan sekitar Rp 15 juta. (ans)

ilustrasi-stop-pungli

Pertama di Indonesia, Bupati Bondowoso Terima Humanis Leader Award dari BKN .

1784696982808

 

BONDOWOSO – Bupati Bondowoso menerima penghargaan Humanis Leader Award dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) atas program dan kebijakan pengelolaan aparatur sipil negara (ASN) yang mengedepankan pendekatan humanis.

Penghargaan diberikan atas pendekatan humanis dalam pengelolaan ASN, termasuk kebijakan penempatan pegawai yang mempertimbangkan kedekatan dengan rumah dan keluarga.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik.

Kepala BKN, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap program Bupati Bondowoso yang memperhatikan aspek kemanusiaan dalam pengelolaan ASN, terutama melalui penempatan pegawai yang dekat dengan tempat tinggal dan keluarga.

Menurut Zudan, kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi waktu dan biaya perjalanan pegawai, sehingga ASN memiliki kesempatan lebih besar untuk berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya.

“Kalau dekat dengan rumah dan keluarga, rasa capek, waktu ke kantor, dan biayanya lebih murah. ASN bisa berkonsentrasi, lebih fokus bekerja, sehingga karyanya dan pelaksanaan tugas-tugasnya bisa optimal,” ujar Zudan,Jum’at 23/10/2026 saat bertemu ribuan ASN di Bondowoso.

Ia menegaskan, ASN merupakan penggerak utama pelayanan publik. Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan perlu dimulai dari pembenahan pola pikir dan cara kerja aparatur agar lebih adaptif serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Zudan juga menyampaikan dukungan pemerintah pusat terhadap visi dan misi Bupati Bondowoso. Ia menyebutkan, terdapat sekitar 12.500 ASN di Bondowoso yang diharapkan dapat bergerak bersama untuk memberikan pelayanan publik secara maksimal.

“Tema besarnya adalah memotivasi para ASN untuk berpikir adaptif dan berorientasi melayani dengan meningkatkan kualitas layanan publik. Penggerak pelayanan itu adalah para ASN,” katanya.

Si Zona Jadi Penguat Reformasi Pelayanan ASN

1791899701721

Bupati Bondowoso menyambut penghargaan tersebut dengan rasa bangga dan bahagia. Ia menilai apresiasi dari BKN menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat program-program unggulan pemerintah daerah, termasuk Si Zona

Menurut Bupati, program tersebut sejalan dengan upaya BKN dalam mendorong pengelolaan ASN yang lebih responsif terhadap kebutuhan pelayanan.

“Ini merupakan pelecut dan penyemangat agar kami lebih serius dalam menata serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi ASN. Berarti apa yang kita lakukan sudah berada di jalur yang tepat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan ASN tidak terlepas dari kerja bersama seluruh unsur pemerintah daerah, mulai dari pemetaan kebutuhan pegawai hingga pengambilan kebijakan.

Bupati berharap penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi capaian seremonial, tetapi juga menjadi motivasi untuk memperkuat komitmen dalam membangun birokrasi yang efektif, responsif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

 

 

 

 

Toilet Bersih di Sekolah Ditargetkan Mulai Diluncurkan pada Desember
Selain membahas pengelolaan ASN, Bupati Bondowoso juga menyinggung program penyediaan toilet bersih di lingkungan pendidikan. Program tersebut diprioritaskan untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Bupati menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan telah menyatakan komitmennya untuk melaksanakan program tersebut. Pemerintah Kabupaten Bondowoso menargetkan program toilet bersih dapat diluncurkan pada Desember 2026.
“Tadi, untuk toilet bersih, prioritasnya di sekolah, yakni SD dan SMP. Kepala Dinas Pendidikan sudah berkomitmen melaksanakan program itu, dan kami upayakan Desember sudah bisa diluncurkan,” ujarnya.
Program toilet bersih diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas fasilitas pendidikan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang bersih dan nyaman bagi siswa.
Penghargaan Humanis Leader Award dan penguatan program pelayanan publik tersebut diharapkan menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk terus membenahi tata kelola pemerintahan, meningkatkan kesejahteraan kerja ASN, serta menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas bagi masyarakat.
Catatan redaksi: Klaim “pertama di Indonesia” perlu dikonfirmasi kepada BKN atau melalui dokumen resmi penghargaan sebelum dicantumkan sebagai fakta dalam judul. Nama lengkap Bupati, kepanjangan resmi program Sijawara, serta tanggal dan lokasi penyerahan penghargaan juga perlu dipastikan untuk melengkapi berita.
Ganti klaim judul dengan placeholder aman
Ringkas paragraf penutup agar lebih faktual
Pertajam unsur 5W+1H dalam pembuka

ilustrasi-stop-pungli

BPK Periksa Kinerja Tata Kelola RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, Fokus Optimalisasi Pelayanan Kesehatan

1784696982808

BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Jawa Timur mulai melaksanakan pemeriksaan kinerja secara terinci terhadap tata kelola RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Pemeriksaan ini bertujuan menilai pengelolaan rumah sakit dalam mendukung optimalisasi pelayanan kesehatan selama 2025 hingga semester I 2026.

Pemeriksaan tersebut disampaikan Ketua Tim Pemeriksa BPK RI Perwakilan Jawa Timur, Nurul Habibah, dalam entry meeting di Ruang Paringgitan, Pendopo Bagus Asra, Bondowoso, Kamis (22/10/2026).

Nurul menjelaskan, pemeriksaan terinci merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan surat tugas, tim pemeriksa mulai bekerja pada 21 Oktober hingga 19 November 2026, dengan durasi 30 hari kalender.

“Berdasarkan surat tugas yang kami sampaikan kemarin, kami ditugaskan kembali untuk melaksanakan pemeriksaan yang lebih terinci dari pemeriksaan pendahuluan sebelumnya,” ujar Nurul.

Ia menerangkan, pemeriksaan tersebut berfokus pada kinerja tata kelola rumah sakit dalam mendukung optimalisasi pelayanan kesehatan, dengan objek pemeriksaan RSUD dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso.

Menurut Nurul, pemeriksaan BPK terdiri atas tiga jenis, yakni pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Masing-masing memiliki fokus serta keluaran yang berbeda.

Pemeriksaan keuangan menghasilkan opini, sedangkan pemeriksaan dengan tujuan tertentu menghasilkan kesimpulan sesuai tujuan pemeriksaannya. Sementara itu, pemeriksaan kinerja menitikberatkan pada penilaian aspek ekonomis, efisiensi, dan efektivitas pelaksanaan program atau kegiatan.

1791899701721

“Harapannya, nanti ada keluaran berupa temuan dan simpulan terkait penilaian atas kinerja yang sudah dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian rekomendasi atas hal-hal yang masih dirasa menjadi permasalahan,” jelasnya.

Melalui pemeriksaan tersebut, BPK akan menilai sejauh mana kinerja tata kelola rumah sakit telah berjalan serta mengidentifikasi berbagai kendala yang berpotensi memengaruhi optimalisasi pelayanan kesehatan.

Nurul juga menjelaskan bahwa penetapan RSUD dr. H. Koesnadi sebagai objek pemeriksaan didasarkan pada proses pemeriksaan pendahuluan. Dari tahapan tersebut, tim mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang selanjutnya menjadi bahan pendalaman dalam pemeriksaan terinci.

Terkait pelaksanaan pemeriksaan, Nurul menyebutkan bahwa tim tetap memberikan ruang bagi rumah sakit untuk menjalankan agenda akreditasi yang telah dijadwalkan, sembari pemeriksaan BPK berlangsung. Ia menjelaskan, penyesuaian jadwal pemeriksaan dilakukan dengan mempertimbangkan agenda nasional tersebut.

Adapun dasar hukum pemeriksaan mengacu pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Pemeriksaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kinerja tata kelola RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso sekaligus menghasilkan rekomendasi perbaikan untuk mendukung peningkatan mutu dan efektivitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

ilustrasi-stop-pungli

Direktur RSUD dr.H.Koesnasi Bondowoso : Audit Kinerja Diharapkan Dorong Perbaikan

1784696982808

Bondowoso – Direktur RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adriyanto, Sp.P., FISR, menjelaskan bahwa pemeriksaan terinci tersebut merupakan kelanjutan dari pemeriksaan pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya.

Menurutnya, audit kinerja berbeda dengan pemeriksaan keuangan yang menghasilkan opini. Pemeriksaan kinerja berfokus pada penilaian pelaksanaan kinerja dan menghasilkan kesimpulan serta saran yang dapat digunakan sebagai dasar perbaikan.

Ia menyatakan pihak rumah sakit siap mendukung proses pemeriksaan dengan menyampaikan data yang diperlukan oleh tim BPK.

“Intinya, Pak Bupati berpesan agar transparan. Jadi, semua data kita sampaikan kepada BPK untuk dilakukan audit kinerja,” ujarnya.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi bagi rumah sakit untuk mengidentifikasi aspek yang perlu dibenahi, sekaligus memperkuat tata kelola pelayanan agar lebih efektif, efisien, dan akuntabel.

1791899701721

Beriringan dengan Proses Akreditasi
Di tengah pemeriksaan kinerja, RSUD dr. Koesnadi juga baru menyelesaikan agenda akreditasi rumah sakit yang berlangsung pada 18–22 Oktober 2026.

Bupati mengakui, pelaksanaan dua agenda tersebut dalam waktu berdekatan berpotensi membagi fokus sumber daya personel rumah sakit. Meski demikian, ia menilai akreditasi dan pemeriksaan kinerja sama-sama berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Abdul Hamid Wahid berharap sinergi antara pemerintah daerah, manajemen rumah sakit, dan BPK dapat mendorong terwujudnya rumah sakit yang tidak hanya memenuhi standar akreditasi, tetapi juga memiliki tata kelola yang baik dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

Pemeriksaan yang berlangsung hingga 19 November 2026 itu menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan manajemen RSUD dr. Koesnadi untuk menindaklanjuti catatan pemeriksaan pendahuluan secara terukur.

Transparansi dalam penyediaan dokumen, keterbukaan terhadap evaluasi, serta tindak lanjut atas rekomendasi nantinya menjadi bagian penting dalam memastikan pemeriksaan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perbaikan tata kelola dan pelayanan kesehatan di Bondowoso.

ilustrasi-stop-pungli

Lima Catatan Mengemuka,Audit Terinci RSUD Koesnadi Bupati Bondowoso Tekankan Transparansi

1784696982808

BONDOWOSO – Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid meminta jajaran RSUD dr. Koesnadi dan perangkat daerah terkait bersikap terbuka, kooperatif, serta transparan dalam pemeriksaan kinerja terinci yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Timur.

Pemeriksaan ini menjadi tindak lanjut dari pemeriksaan pendahuluan dan diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk memperbaiki tata kelola serta kualitas pelayanan rumah sakit.

Pemeriksaan kinerja terinci tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 21 Oktober hingga 19 November 2026. Bupati menegaskan, seluruh jajaran terkait harus mendukung proses pemeriksaan dengan menyediakan data dan dokumen yang dibutuhkan secara lengkap dan tepat waktu.

“Kami berharap segenap jajaran, khususnya jajaran RSUD dan perangkat daerah terkait, agar dapat membantu dengan sepenuhnya, bersikap kooperatif, terbuka, dan transparan. Mari kita sampaikan data atau dokumen yang dibutuhkan dan diperlukan oleh tim secara lengkap dan tepat waktu,” ujar Abdul Hamid Wahid di Ruang Paringgitan Pendopo Bagus Asra,Kamis,22/10/2026.

1791899701721

Menurut Bupati, pemeriksaan ini merupakan bagian dari kemitraan strategis antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur. Hasil pemeriksaan pendahuluan sebelumnya juga telah memuat sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.

Lima aspek yang disoroti meliputi tata kelola keuangan, tata kelola pelayanan medik, tata kelola operasional, tata kelola sumber daya pendidikan, serta rendahnya rasio kas terhadap utang operasional.

Bupati menyatakan pemerintah daerah menerima dan memahami catatan tersebut untuk selanjutnya dijadikan bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di RSUD dr. Koesnadi, serta pada perangkat daerah lain yang terkait.

“Secara prinsip, kami menerima dan memahami sepenuhnya catatan-catatan hasil pemeriksaan pendahuluan tersebut. Selanjutnya, akan kami jadikan sebagai bahan evaluasi dan pedoman dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tegasnya.

ilustrasi-stop-pungli

Mini Kompetisi Konstruksi, Profesionalisme Pengadaan Diuji

1784696982808

BONDOWOSO, ULAS.CO.ID – Perubahan regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah menuntut aparatur pengadaan untuk semakin cermat, profesional, dan berintegritas. Kesalahan dalam menyusun dokumen kompetisi maupun mengevaluasi penawaran bukan sekadar persoalan administratif, tetapi berpotensi memengaruhi kualitas proses pengadaan dan keadilan bagi penyedia jasa.

Merespons tantangan tersebut, Bagian Barang dan Jasa Kabupaten Bondowoso menggelar bimbingan teknis (bimtek) mini kompetisi pekerjaan konstruksi, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini difokuskan pada pemahaman regulasi terbaru, penyusunan dokumen kompetisi, evaluasi penawaran, hingga simulasi penetapan pemenang.
Bimtek menghadirkan narasumber dari Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI), Mustofa, yang akrab disapa Cak Mustofa, serta Kepala Bagian Barang dan Jasa Kabupaten Bondowoso, Eko Pribadi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas para pelaku pengadaan dalam menyikapi perubahan ketentuan, khususnya Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Katalog Elektronik dan Peraturan LKPP Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Melalui Penyedia.

Evaluasi Penawaran Tak Boleh Subjektif
Dalam pemaparannya, Cak Mustofa menegaskan bahwa pelaksanaan mini kompetisi pekerjaan konstruksi tidak cukup hanya berbekal pemahaman teknis penggunaan sistem. Pejabat pengadaan (PP) dan kelompok kerja (Pokja) juga harus menguasai ketentuan yang berlaku, mulai dari penyusunan dokumen kompetisi hingga evaluasi dan penetapan pemenang.

Menurutnya, ketelitian dalam setiap tahapan menjadi faktor penting agar proses pengadaan berjalan sesuai ketentuan dan tidak menimbulkan kesalahan yang dapat merugikan pihak tertentu.

“Harapan kita, dalam kegiatan sehari ini teman-teman bisa memahami bagaimana mini kompetisi pekerjaan konstruksi, apa saja persyaratannya, serta bagaimana cara melakukan evaluasinya,” jelas Cak Mustofa.

Ia menjelaskan, dokumen kompetisi merupakan fondasi penting sebelum proses pemilihan penyedia dilaksanakan. Dokumen tersebut harus disusun berdasarkan regulasi dan kebutuhan paket pekerjaan, dengan persyaratan yang jelas serta tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.

Ketelitian juga diperlukan ketika mengevaluasi penawaran. Setiap penilaian harus berlandaskan persyaratan dan kriteria yang telah ditetapkan, bukan pertimbangan subjektif yang berpotensi mengganggu objektivitas proses kompetisi.

“Regulasi sudah dibuat sedemikian detail, sistem juga sudah dibangun dengan baik. Pada akhirnya, pelaksanaan tetap kembali kepada integritas dan perilaku masing-masing individu,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberadaan regulasi dan sistem elektronik saja tidak cukup. Kualitas pengadaan tetap bergantung pada kepatuhan, profesionalitas, dan integritas orang-orang yang menjalankan prosesnya.
Peserta Diuji Lewat Praktik

Untuk memperkuat pemahaman, bimtek tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Peserta juga dijadwalkan mengikuti praktik penyusunan paket kompetisi melalui aplikasi, mempelajari proses penawaran dari sisi penyedia, serta melakukan simulasi evaluasi hingga penetapan pemenang.

Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan memahami tahapan mini kompetisi secara menyeluruh, termasuk penyusunan kertas kerja evaluasi sebagai bagian dari dokumentasi proses pengadaan.

1791899701721

Pendekatan praktik ini menjadi penting agar pemahaman terhadap regulasi tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat diterapkan dalam pelaksanaan pengadaan yang sesungguhnya.

Sistem elektronik yang menyediakan rekam jejak proses juga diharapkan mendukung transparansi dan akuntabilitas. Namun, manfaatnya hanya dapat dirasakan apabila setiap tahapan dijalankan secara disiplin dan sesuai aturan.

Pengusaha Lokal Perlu Mendapat Peluang yang Proporsional

Sementara itu, Kepala Bagian Barang dan Jasa Kabupaten Bondowoso, Eko Pribadi, mengatakan bimtek tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah merespons perubahan regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Menurut Eko, para pelaku pengadaan perlu terus memperbarui pemahaman, terutama mengenai penyusunan dokumen kompetisi, mekanisme evaluasi, dan pelaksanaan mini kompetisi pekerjaan konstruksi.

Selain kepatuhan terhadap regulasi, perhatian juga diarahkan pada aspek afirmasi bagi penyedia lokal. Pemerintah daerah berharap ketentuan pengadaan dapat dipahami dan diterapkan dengan tetap memperhatikan peluang serta potensi pelaku usaha lokal Bondowoso sesuai aturan yang berlaku.

“Ini bagian dari langkah kami dalam menyikapi perubahan regulasi. Kami ingin sama-sama memahami ketentuan yang baru, termasuk dokumen kompetisi dan evaluasinya, sekaligus menangkap semangat afirmasi lokal dalam pengadaan,” ujar Eko.

Perhatian terhadap penyedia lokal menjadi salah satu aspek penting dalam pengadaan di daerah. Meski demikian, upaya membuka kesempatan bagi pengusaha lokal tetap harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi, pemenuhan persyaratan, dan prinsip persaingan yang sehat.

Dengan demikian, afirmasi lokal tidak sekadar menjadi wacana, tetapi perlu dipahami secara tepat dalam penerapan ketentuan pengadaan.

Pengadaan Profesional untuk Mendukung Pembangunan

Melalui kegiatan ini, Bagian Barang dan Jasa Kabupaten Bondowoso berharap kapasitas pejabat pengadaan, Pokja, pejabat pembuat komitmen (PPK), serta penyedia jasa konstruksi semakin meningkat.

Penguasaan regulasi, ketepatan evaluasi, dan integritas pelaksana menjadi unsur penting untuk mewujudkan pengadaan yang tertib, transparan, dan akuntabel.
Pada akhirnya, keberhasilan pengadaan tidak hanya diukur dari terlaksananya proses pemilihan penyedia.

Kepatuhan terhadap aturan, objektivitas evaluasi, kualitas pekerjaan, serta terbukanya kesempatan yang proporsional bagi pelaku usaha lokal juga menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan Kabupaten Bondowoso.
Penulis: Redaksi

ilustrasi-stop-pungli

ILO Bidik Pasar Eropa dan Swiss, Sekitar 2.000 Petani Kopi Bondowoso Jadi Sasaran Pengembangan

1784696982808

BONDOWOSO – Pengembangan ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso diarahkan untuk menembus pasar internasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pekerja di sepanjang rantai nilai kopi. Melalui program Promise II Impact, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mendorong penguatan kerja sama lintas sektor guna memperluas peluang usaha dan meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal.

National Project Coordinator program Promise II Impact dari ILO, Tomas Sugiono, menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Pengembangan pada tahap awal difokuskan pada dua ekosistem kopi dengan sasaran sekitar 2.000 petani.

Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perluasan pasar, penguatan rantai usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada komoditas kopi.

Kopi Bondowoso Dibidik untuk Pasar Eropa dan Swiss

Salah satu agenda penting dalam pengembangan ekosistem kopi Bondowoso adalah memperluas akses pemasaran ke pasar internasional, termasuk Eropa dan Swiss.

Upaya tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso, BUMD Bondowoso Gemilang, hingga mitra SIPO yang membantu mempromosikan kopi Bondowoso ke pasar tersebut.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi kopi lokal untuk menjangkau pembeli baru sekaligus memperkuat jaringan pemasaran. Jika dikelola secara berkelanjutan, perluasan pasar berpotensi memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha kopi.

Namun, peluang memasuki pasar internasional juga perlu ditunjang konsistensi kualitas, kesinambungan pasokan, ketertelusuran produk, serta pemenuhan persyaratan yang ditetapkan pembeli.

Dengan demikian, promosi kopi Bondowoso tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi diharapkan berkembang menjadi hubungan perdagangan yang berkelanjutan.

Dua Ekosistem Jadi Fokus Awal, Sekitar 2.000 Petani Disasar

Pada tahap awal, program pengembangan difokuskan pada dua ekosistem kopi. Pertama, wilayah Ijen yang dikaitkan dengan kelompok Haji Tohari. Kedua, KUB DOA di wilayah Argopuro yang dikaitkan dengan kelompok Haji Dani.

1791899701721

Kedua ekosistem tersebut menjadi titik awal pengembangan model usaha kopi yang melibatkan petani dan pelaku lain dalam rantai nilai komoditas tersebut.
Sasaran awal program mencapai sekitar 2.000 petani.

Jumlah ini merupakan target yang diharapkan dapat dijangkau melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas, serta pembukaan akses terhadap peluang pasar dan layanan pendukung usaha.

Pendekatan berbasis ekosistem dinilai penting karena keberhasilan usaha kopi tidak hanya ditentukan oleh hasil panen. Pengelolaan pascapanen, mutu produk, akses pembiayaan, serta hubungan dengan pembeli juga berperan dalam menentukan nilai ekonomi yang diterima petani.

Peningkatan Pendapatan Menjadi Sasaran Utama

Selain memperluas pemasaran, program Promise II Impact menargetkan peningkatan pendapatan para pelaku di sepanjang rantai nilai kopi, mulai dari petani hingga pekerja dan pelaku usaha terkait.

Peningkatan pendapatan diharapkan dapat didukung oleh terbukanya peluang pasar baru, penguatan kualitas produk, serta kerja sama yang lebih erat antara produsen, pemerintah daerah, dan mitra pemasaran.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, keterlibatan berbagai pihak perlu berjalan secara konsisten. Pemerintah daerah berperan dalam mendukung pengembangan sektor kopi, sementara BUMD dan mitra pemasaran dapat membantu memperkuat jejaring usaha serta membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, manfaat pengembangan pasar perlu menjangkau petani dan pekerja secara nyata. Keberhasilan program nantinya dapat dinilai dari perkembangan akses pemasaran, keberlanjutan hubungan usaha, serta perubahan pendapatan masyarakat yang terlibat.

Memperkuat Masa Depan Kopi Bondowoso

Pengembangan dua ekosistem dengan sasaran sekitar 2.000 petani diharapkan menjadi pijakan bagi penguatan sektor kopi Bondowoso secara lebih luas.
Jika pelaksanaannya berjalan sesuai sasaran, model tersebut berpotensi menjadi rujukan untuk pengembangan ekosistem kopi di wilayah lain dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.

Bagi Bondowoso, upaya ini menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi kopi sebagai komoditas unggulan sekaligus membangun sistem usaha yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan kopi tidak hanya diukur dari luasnya pasar yang dijangkau, tetapi juga dari kemampuan petani dan pekerja memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik serta berkelanjutan.

ilustrasi-stop-pungli

Kepala DPKP : Kolaborasi ILO–OJK, Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso Diharapkan Dongkrak Kesejahteraan Petani

1784696982808

BONDOWOSO – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, S.P., M.M., mengapresiasi dukungan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mendorong pengembangan ekosistem kopi dan penguatan inklusi keuangan di Kabupaten Bondowoso.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut Project Fase 3 yang berfokus pada komoditas kopi. Program ini diharapkan menjadi peluang untuk memperkuat sektor pertanian kopi secara terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas petani hingga perluasan akses terhadap layanan keuangan.

Bagi Bondowoso, pengembangan ekosistem kopi memiliki arti strategis karena tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi juga menyangkut keberlanjutan usaha, peningkatan nilai tambah komoditas, serta kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.

Perkuat Petani dari Hulu hingga Hilir
Pengembangan ekosistem kopi membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan. Kolaborasi ILO dan OJK diharapkan dapat memperkuat hubungan antarpelaku sehingga rantai usaha kopi menjadi lebih terarah dan memiliki daya saing.

Dari sisi pertanian, penguatan tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produksi, perbaikan pengelolaan usaha tani, serta peningkatan kapasitas petani dalam menghadapi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

“Petani juga perlu didorong untuk memahami pengelolaan usaha secara lebih terencana, termasuk pencatatan produksi, penghitungan biaya, dan pengelolaan hasil panen. Dengan pengelolaan yang lebih baik, petani diharapkan memiliki landasan yang lebih kuat untuk mengembangkan usahanya,”jelasnya ,Kamis,22/10/2026.

Pendekatan ini penting agar pengembangan kopi tidak berhenti pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas, efisiensi, dan nilai ekonomi hasil pertanian.

Inklusi Keuangan Buka Peluang Pengembangan Usaha

1791899701721

Selain penguatan sektor produksi, inklusi keuangan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ekosistem kopi yang berkelanjutan. Akses terhadap layanan keuangan formal diharapkan dapat membantu petani mengembangkan usaha, memenuhi kebutuhan pembiayaan, serta merencanakan kegiatan pertanian dengan lebih baik.

Melalui sinergi dengan OJK dan lembaga keuangan, petani diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan keuangan dan pilihan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan usaha mereka.

Sementara itu, dukungan ILO diharapkan memperkuat pendekatan pembangunan yang memperhatikan aspek ketenagakerjaan dan inklusi ekonomi, sehingga manfaat pengembangan rantai nilai kopi dapat menjangkau petani maupun pekerja yang terlibat di dalamnya.
Namun, perluasan akses pembiayaan harus tetap disertai penilaian kelayakan, transparansi informasi, dan pemahaman terhadap kewajiban keuangan agar pembiayaan benar-benar mendukung keberlanjutan usaha petani.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi Kabupaten Bondowoso untuk memperkuat fondasi pengembangan kopi secara berkelanjutan. Dukungan terhadap petani perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, dan pengembangan akses pasar.

Keberhasilan program nantinya perlu dilihat dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, seperti meningkatnya kapasitas petani, membaiknya kualitas dan pengelolaan produksi, semakin terbukanya akses pasar, serta meningkatnya kemampuan petani dalam mengelola usaha dan keuangan.

Dengan sinergi yang berkesinambungan antara pemerintah daerah, ILO, OJK, dan seluruh pemangku kepentingan, pengembangan ekosistem kopi diharapkan dapat memperkuat posisi Bondowoso sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang memiliki potensi ekonomi penting di Jawa Timur.

Pada akhirnya, pengembangan komoditas kopi bukan semata-mata tentang menghasilkan produk berkualitas, melainkan juga membangun sistem usaha yang sehat, memperluas kesempatan ekonomi, dan mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

ilustrasi-stop-pungli

Digitalisasi Ekosistem Kopi Bondowoso Sasar Sekitar 2.000 Petani

1784696982808

BONDOWOSO – Digitalisasi ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso mulai diarahkan untuk menjangkau sekitar 2.000 petani melalui penerapan sistem pengelolaan usaha terintegrasi.

Program ini menjadi bagian dari tindak lanjut Project Fase 3 yang didukung Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan fokus pada pengembangan komoditas kopi dan penguatan inklusi keuangan.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso, Ir. Hergiar Yuli Pramanto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program tersebut saat ini masih menggunakan pendekatan percontohan (pilot project). Pelaksanaan awal dipusatkan di sejumlah lokasi sebelum nantinya diperluas berdasarkan hasil evaluasi.

Menurut Hergiar, dua lokasi yang telah dipetakan memiliki potensi jangkauan masing-masing sekitar 1.000 petani, yakni kelompok yang dikaitkan dengan Pak Tohari dan kawasan Argopuro yang dikaitkan dengan Pak Dhani.

“Untuk Pak Tohari saja sekitar 1.000 petani. Di Argopuro, kurang lebih juga sama. Jadi, sudah sekitar 2.000 petani yang bisa masuk ke dalam sistem ini,” ujar
dipendopo Raden Bagus Asra Bondowoso, Kamis,22/10/2026.

Hergiar dalam keterangannya.
Sementara itu, lokasi Bogem masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum ditetapkan dalam pelaksanaan program.

Data Produksi hingga Pembiayaan Akan Terintegrasi

Salah satu komponen utama program ini adalah penerapan Enterprise Resource Planning (ERP), yakni sistem digital untuk mengintegrasikan dan mengelola data kegiatan usaha.

Melalui sistem tersebut, data produksi, kualitas kopi, hingga pembiayaan diharapkan dapat tercatat dan ditelusuri secara lebih akurat serta cepat. Ketersediaan data yang terstruktur dinilai penting untuk memperjelas kondisi usaha petani sekaligus mendukung proses pengambilan keputusan.

Hergiar menjelaskan, sistem digital ini diharapkan dapat membantu petani memperoleh akses permodalan dari perbankan maupun lembaga keuangan lainnya.

“Harapannya, ketika data sudah lebih tergambar dengan jelas, akses permodalan petani ke perbankan atau lembaga keuangan lainnya bisa lebih mudah. Ini yang diharapkan dapat memberikan dampak bagi petani kita,” jelasnya.

1791899701721

Meski demikian, kemudahan akses pembiayaan tersebut masih menjadi target yang perlu diwujudkan melalui penerapan sistem dan dukungan lembaga keuangan. Digitalisasi data diharapkan menjadi salah satu faktor pendukung, bukan jaminan otomatis bahwa seluruh petani akan memperoleh pembiayaan.
Sertifikasi Barista dan Roaster Jadi Perhatian

Selain digitalisasi pertanian kopi, Diskoperindag Bondowoso juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam industri kopi, khususnya barista dan roaster atau tenaga yang menangani proses sangrai biji kopi.
Hergiar mengakui, pihaknya belum memiliki data lengkap mengenai jumlah barista yang telah tersertifikasi. Hal ini karena banyak barista bekerja secara mandiri di luar pendataan resmi pemerintah daerah.

Meski demikian, Diskoperindag berharap program sertifikasi dapat diperluas secara bertahap melalui komunitas barista yang telah terbentuk di Bondowoso.
“Harapan kami, setidaknya setiap periode ada lima barista yang bisa mengikuti sertifikasi. Tidak hanya barista, tetapi juga roaster yang memiliki sertifikasi kompetensi,” ungkapnya.

Menurut Hergiar, sertifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan kepastian kepada konsumen dan pelaku usaha mengenai kompetensi tenaga profesional yang terlibat dalam pengolahan serta penyajian kopi.

Ia memperkirakan, berdasarkan pengamatannya, tenaga barista dan roaster yang telah memiliki sertifikasi masih sekitar 20 persen. Namun, angka tersebut belum didukung pendataan menyeluruh sehingga perlu diverifikasi lebih lanjut.

Perkuat Daya Saing Industri Kopi Bondowoso

Diskoperindag berharap dukungan ILO dan OJK dapat membuka peluang peningkatan kapasitas pelaku usaha kopi secara bertahap, mulai dari petani hingga tenaga profesional di sektor hilir.

Digitalisasi data, kemudahan akses pembiayaan, dan sertifikasi kompetensi diharapkan saling mendukung dalam membangun rantai usaha kopi yang lebih tertata dan berdaya saing.

Bagi Bondowoso, yang dikenal dengan identitas Republik Kopi, penguatan ekosistem tersebut bukan hanya menyangkut peningkatan produksi. Upaya ini juga berkaitan dengan peningkatan kualitas produk, profesionalisme tenaga kerja, dan terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ke depan, keberhasilan program akan ditentukan oleh hasil penerapan sistem percontohan, ketepatan data petani, perluasan akses pembiayaan, serta meningkatnya jumlah tenaga profesional kopi yang memiliki kompetensi terverifikasi.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kopi Bondowoso diharapkan tidak berhenti pada potensi komoditas, tetapi berlanjut menjadi penguatan usaha yang manfaatnya dapat dirasakan oleh petani dan pelaku industri kopi secara lebih luas.

ilustrasi-stop-pungli

ILO Jenewa Bidik Peningkatan Pendapatan Petani Kopi Bondowoso, Perluasan Pasar Jadi Prioritas

1784696982808

BONDOWOSO – Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mendorong penguatan inklusi keuangan dan perluasan akses pasar bagi petani serta pekerja dalam rantai nilai kopi di Kabupaten Bondowoso. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sektor perkopian.

Yousra Hamed, Senior Technical Officer untuk Global Programme on Financial Education di bawah Social Finance Programme ILO, menjelaskan bahwa program tersebut berfokus pada peningkatan kualitas inklusi ekonomi bagi petani dan pekerja yang terlibat dalam rantai nilai kopi.

Menurutnya, Bondowoso memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem kopi dengan dukungan pemerintah daerah dan berbagai mitra, termasuk lembaga keuangan.

“Tujuan nyata melalui proyek ini adalah memperkuat mata pencaharian penduduk Bondowoso,” ujar Yousra Hamed.

Ia menegaskan, pengembangan ekosistem kopi tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Petani dan pekerja juga perlu mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengakses pasar serta memanfaatkan layanan keuangan yang dapat mendukung kegiatan ekonomi mereka.

Perluasan Pasar dan Inklusi Keuangan Jadi Kunci

Yousra menyebutkan, terdapat dua sasaran utama yang ingin dicapai melalui program tersebut, yakni membuka akses ke pasar yang lebih luas dan meningkatkan keterhubungan masyarakat dengan sistem keuangan.

Kedua langkah itu diharapkan saling mendukung dalam menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, terutama mereka yang bekerja di sepanjang rantai nilai kopi.

1791899701721

“Kami ingin membuka lebih banyak pasar dan memasukkan mereka ke dalam sistem keuangan. Keduanya secara bersama-sama akan menciptakan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat. Inilah dampak paling signifikan yang ingin kami capai,” jelasnya.

Perluasan pasar diharapkan membuka peluang pemasaran yang lebih baik bagi produk kopi Bondowoso. Sementara itu, penguatan inklusi keuangan diharapkan memperluas akses petani dan pekerja terhadap layanan keuangan formal sesuai kebutuhan mereka.

Jika kedua upaya tersebut berjalan selaras, masyarakat berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari aktivitas usaha kopi, mulai dari produksi hingga pemasaran.

Perkuat Ekosistem Kopi Bondowoso
Yousra juga mengapresiasi dukungan Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid serta berbagai mitra yang terlibat dalam pengembangan program tersebut.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, petani, pekerja, dan pelaku usaha dinilai penting untuk membangun ekosistem kopi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Bagi Bondowoso, penguatan rantai nilai kopi menjadi peluang untuk meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Namun, keberhasilan program ini nantinya perlu dilihat dari hasil nyata di lapangan, termasuk terbukanya akses pasar, meningkatnya penggunaan layanan keuangan, serta bertambahnya pendapatan petani dan pekerja kopi.

Dengan demikian, pengembangan ekosistem kopi tidak hanya berorientasi pada komoditas, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menjadi bagian penting dari rantai usaha tersebut.

ilustrasi-stop-pungli

OJK dan ILO Bidik Kesejahteraan Buruh Tani Kopi Bondowoso, Perempuan Jadi Perhatian

1784696982808

BONDOWOSO – Kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dalam pengembangan ekosistem kopi di Bondowoso tidak hanya diarahkan untuk memperkuat sektor usaha, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan buruh tani, khususnya perempuan.

Kepala OJK Kabupaten Jember, Aris Budiman, menegaskan bahwa pemberdayaan tenaga kerja menjadi salah satu fokus penting dalam program kerja sama tersebut. Melalui program ini, petani dan buruh tani diharapkan memiliki kapasitas lebih baik, memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar, serta mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Dengan adanya program ini, diharapkan semakin banyak petani yang berdaya, termasuk buruh-buruh tani, khususnya buruh perempuan. Jika program ini dapat dijalankan dengan baik, upaya pemberdayaan mereka akan semakin mudah,” ujar Aris Budiman.

Menurut Aris, keterlibatan ILO menjadi penting karena organisasi tersebut memiliki fokus pada persoalan ketenagakerjaan. Karena itu, pengembangan ekosistem kopi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat posisi dan kesejahteraan para pekerja yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai usaha kopi.

Kesejahteraan Pekerja Tak Cukup Sekadar Janji

Aris menegaskan, keberhasilan program tidak boleh hanya dinilai dari terlaksananya pelatihan atau banyaknya kegiatan yang digelar. Dampak nyata terhadap kesejahteraan petani dan buruh tani juga harus menjadi tolok ukur.

Untuk itu, program akan dilengkapi dengan indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang jelas. Indikator tersebut nantinya digunakan untuk mengukur sejauh mana program mampu meningkatkan kesejahteraan kelompok sasaran.

“Akan ada KPI dan indikator-indikator yang kita tetapkan secara jelas. Peningkatan kesejahteraan petani maupun buruh tani akan kita ukur melalui program ini. Harapannya, hasilnya jauh lebih baik, baik dari jumlah orang yang dilibatkan maupun dari kualitas kesejahteraannya,” jelasnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat program lebih terukur dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Peningkatan jumlah penerima manfaat perlu diikuti perubahan nyata dalam kapasitas dan kondisi ekonomi masyarakat yang terlibat.

Tak Hanya Petani, Barista hingga Pelaku Roastery Ikut Disasar

1791899701721

Selain menyasar petani dan buruh tani, OJK juga membuka peluang peningkatan kapasitas bagi berbagai profesi yang terlibat dalam ekosistem kopi. Mulai dari petani, pelaku sangrai kopi (roastery), komunitas kopi, hingga profesi lain yang mendukung rantai usaha komoditas tersebut.

Langkah ini menjadi relevan di tengah kebutuhan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam industri kopi, termasuk persoalan sertifikasi profesi barista yang turut mengemuka dalam pembahasan.

Aris menjelaskan, berbagai pelatihan dalam program OJK dapat diarahkan untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan pekerja kopi. Dengan demikian, peningkatan kapasitas tidak hanya terpusat pada sektor produksi, tetapi juga mencakup pengolahan, penyajian, dan aktivitas usaha lain yang menopang industri kopi.

“Harapannya, bukan hanya petaninya yang dilibatkan. Profesi-profesi lain yang masih masuk dalam ekosistem kopi juga bisa kita ikutsertakan untuk meningkatkan kapasitasnya,” ungkapnya.

Membangun Ekosistem Kopi yang Lebih Inklusif

Kolaborasi OJK dan ILO diharapkan menjadi momentum untuk membangun ekosistem kopi Bondowoso yang lebih inklusif, dengan memberikan ruang bagi petani, buruh tani, pekerja perempuan, serta pelaku usaha dari berbagai lini.

Penguatan kompetensi tenaga kerja, perluasan keterlibatan masyarakat, dan pengukuran dampak kesejahteraan menjadi aspek penting agar pengembangan komoditas kopi memberikan manfaat yang lebih merata.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh rencana tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur, dengan indikator keberhasilan yang transparan serta hasil yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sebab, keberhasilan pengembangan kopi Bondowoso bukan semata-mata ditentukan oleh kualitas biji kopi atau luasnya pasar, melainkan juga oleh kesejahteraan orang-orang yang bekerja di balik setiap prosesnya.

ilustrasi-stop-pungli
error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih